Showing posts with label pantat's report. Show all posts
Showing posts with label pantat's report. Show all posts

23.9.10

Stasiun Jogjes

Bisa dibilang, saya sudah sekian kali bertandang ke Stasiun Tugu Jogjes (Jogja Yes!). Tidak ada yang menarik buat saya, selain luasnya area stasiun dan pintu depannya yg khas. Saya bisa bilang khas, karena saya banyak menjumpai foto-foto orang berlatarkan pintu depan Stasiun Tugu. Sangat mudah mengenalinya, terutama bagi yang pernah sekali bertandang ke sana.

Oh ya, satu lagi yang slalu saya ingat dari stasiun ini. Hampir semua kereta dari arah Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur pasti selalu berhenti sejenak di stasiun ini. Kayak pemberhentian wajib gitu loh.. Beneran deh! Posisinya strategis kali ya, di tengah2 jalur kereta api Jawa. Hmm..

Nah, bulan Agustus lalu saya sempat bertandang ke stasiun ini lagi. Saya baru memperhatikan beberapa detailnya. Seperti rel kereta yang melintas di gerbang depan dan memotong lahan parkiran. Mungkin tidak asing buat sebagian orang, tapi buat saya. Wew! Lucu juga..

Sebuah monumen lokomotif mini sedang dibangun di gerbang depan stasiun. Trotoar di samping parkiran diperbagus dengan kanopi dan pagar oranye. Di beberapa tempat juga saya temui beberapa tukang yang sedang membangun entah apa. Wah, stasiun ini sedang mempercantik diri rupanya!

Hal yang paling ‘wah’ menurut saya, kemudian adalah pemandangan dalam stasiun di bagian depan. Dari pintu depan, kita tidak hanya disuguhi oleh papan jadwal datang dan berangkat kereta, telepon umum dan loket pembelian tiket. Tapi ada juga VENDING MACHINE!! yes, mesin penjual minuman ringan. Persis sama dengan yang terlihat di tipi2, tapi dengan produk lokal dan pilihan bahasa lokal. Wow!

vending machine1

coffe maker

Vending Machine nya pun ada dua. Satu untuk kopi dan teh, satu lagi untuk minuman ringan seperti Fruit Tea. Atau bisa dibilang, yang saya sebut pertama tuh sebenarnya Coffe/Tea Maker. Cara belinya, simpel. Cukup masukin uang 5.000 atau 10.000 rupiah ke dalamnya dan pencet tombol minuman yg akan dipilih. Persis sama dengan yang di tipi2 lah pokoknya!

Sayangnya, harga produknya jauh di atas harga pasaran. Masa 1 botol Fruit Tea yang biasanya 5.000-an jadi 10.000 rupiah? Saya sih lebih milih untuk beli di minimarket dalam stasiun deh! Hihihi…

Di dalam stasiun sendiri, ada minimarket dan kios-kios pedagang kaki lima yang tertata rapi. Kios-kios PKL ditata seperti dalam arena bazaar gitu, ada stand-stand cantiknya. Ga semrawut macam di stasiun-stasiun lain. Berbagai macam oleh-oleh, kerajinan tangan dan pernak-pernik khas Jogjes dijual di situ. Pilihan tepat untuk beli oleh-oleh bagi siapapun yang tidak punya banyak waktu di Jogjes. Seperti saya, misalnyaa..hihihihi.

7.3.10

Balada Sekolah Gratis.. (lanjutan Balada Ujian Nasional)

Selain bicara mengenai UN, ibu guru cantik ketiga adik asuh saya juga mengeluhkan subsidi."Kami seharusnya mendapatkan bantuan Sekolah Gratis dari Dinas Prov sebesar 267 juta, tapi yang masuk ke rekening sekolah cuma 165 juta. Yang 100 juta gak tau kemana." Wah, kok bisa Bu? tanya saya. "Saya juga gak tahu. Padahal dalam laporan pertanggungjawaban, kami tetap harus melaporkan bahwa kami menerima 267 juta." Lho, kenapa begitu? tanya saya lagi. "Ya, daripada sekolah kami tidak mendapat bantuan lagi?"

Maksudnya? "Yang mengalami ini bukan hanya sekolah kami saja. Sekolah-sekolah lain juga. Kami tidak bisa protes, karena katanya kalo kita protes sekolah tidak akan dapat bantuan untuk seterusnya." Sekolah ketiga adik asuh saya memang tergolong sekolah kecil, hanya ada 2 atau 3 ruang kelas untuk kelas 10, 2 ruang kelas untuk kelas 11 dan 1 ruang kelas untuk kelas 12. Saya maklum bila si ibu tidak bisa berbuat banyak. Seperti saya bilang di tulisan sebelumnya, ibu guru cantik ini termasuk dalam sistem.jika si ibu berulah, kemungkinan besar yang rugi adalah sekolahnya sendiri. Makanya, beliau hanya bisa menahan diri saja melihat ketidakadilan dalam tubuh sistem pendidikan kita.

"Gara-gara janji subsidi 267 juta itulah, kami berani merenovasi sekolah sejak tahun lalu. Sekarang, tahap renovasi masih jalan. Tapi dananya kurang. Tidak mungkin kami meminta dana dari siswa. Sekolah gratis, kok narik biaya lagi. Jadinya kami berhutang pada bank, bagaimanapun renovasi sekolah harus tetap berjalan." cerita ibu cantik lagi. Sekali saya menanyakan kemungkinan untuk melaporkan hal ini ke pihak berwajib. Tapi si ibu guru mengelak. "Kepala dinas saja tahu soal ini, tapi diam saja. Jadi memang sudah dari atasnya seperti itu mungkin."

Selain subsidi, hal yang paling saya cermati dari sekolah-sekolah gratis yang menjamur di Bandung adalah guru-gurunya. Guru-guru ketiga adik asuh saya jarang memberikan pengajaran yang selayaknya pada murid. Terbukti dari kemajuan belajar ketiga adik asuh saya. Banyak materi-materi pelajaran yang tidak mereka kuasai dengan benar. Fakta ini saya peroleh dari hasil les pemantapan Ujian Nasional yang kami lakukan 2 minggu belakangan. Dua adik asuh saya yang lain juga mengeluh karena guru-guru mereka jarang datang. Entah guru Matematika, Bahasa Indonesia, atau lainnya. Kalau pun mengajar, mereka hanya disuruh mencatat dan fotokopi materi pelajaran. Lantas, mengapa mereka masih harus dituntut lulus dalam Ujian Nasional?

Lalu, apa esensinya membuka sekolah gratis? Hanya untuk memenuhi tuntutan masyarakat kah? Kalau memang belum siap, mengapa harus dipaksakan? Adik-adik kitalah yang menjadi korban. Sama saja dengan kita menyia-nyiakan warga negara usia produktif kita dengan kualitas pendidikan yang menyedihkan.

4.3.10

Balada Ujian Nasional Kitaa...

Pertengahan Februari lalu, saya dikejutkan oleh sebuah surat pemberitahuan dari SMA adik-adik asuh saya. Surat pemberitahuan tersebut mengumumkan jadwal Ujian Nasional, Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Praktek mereka mulai 22 Maret-14 April 2010. Pihak sekolah mecantumkan biaya keseluruhan ujian sebesar Rp 300.000/siswa. Wew!Mahal juga, pikir saya saat itu.

Seingat saya, dulu saya tidak pernah mengeluarkan biaya begitu besar untuk mengikuti Ujian Nasional. Lagipula, polemik Ujian Nasional kan sudah sampai tingkat kasasi. Kok masih terus dilangsungkan ya? Sekolah ketiga adik asuh saya tersebut juga termasuk salah satu sekolah swasta di Bandung yang mendapatkan subsidi Sekolah Gratis sejak tahun 2009 lalu. Lantas, kenapa masih dikenai biaya ujian segala?

Berbekal uang 900.000 dan pikiran macam-macam di kepala, saya mendatangi sekolah tersebut tanggal 1 maret lalu. Saya bertemu dengan Ibu wakil sekolah bidang kesiswaan. Beliau ini sebenarnya anak dari kepala sekolah, yang dipercaya untuk mengurus sekolah tersebut sejak awal tahun 2009. Sang kepala sekolah memiliki beberapa sekolah di kota dan kabupaten Bandung, ceritanya. Well, semacam bisnis keluarga mungkin. Karena anak dan kerabatnya diserahi peran penting pada beberapa sekolahnya. Setahu saya sekolah-sekolahnya tergolong kecil dan dibangun di daerah kecil, seperti Majalaya sampai Garut. Tapi dengan banyaknya subsidi pendidikan untuk sekolah-sekolah di masa kini mungkin ini jadi bisnis yang bagus =D

Nah, Ibu muda cantik yang ramah itu menerima saya dengan sangat baik. Saya bayar biaya ujian ketiga adik asuh saya tanpa banyak bicara. Tiba-tiba beliau nyeletuk bilang, "Seharusnya Ujian
Nasional tuh ga usah ada, itu kan cuma proyekan dinas saja." Senyum saya kulum, mengangguk tanda setuju. Wah, si ibu idealis juga niy. Kelihatannya beliau masih berusia 30-an awal, karena
kalo murni idealis kan biasanya mahasiswa yang berusia 20-an."Ujian Nasional itu cuma kedok." Si ibu cantik lantas menjelaskan alasan kenapa biaya ujian bisa semahal 300 ribu rupiah.

Dalam UN, para pengawas ujian adalah guru-guru dari luar sekolah dan ada pengawas dari dinas. "Saya bulan lalu habis rapat koordinasi SMA negeri dan swasta se-Bandung Utara. Dalam Materi Rapat disebutkan bahwa sekolah harus memberi uang transpor dan makan bagi para pengawas UN." Lalu, ia menunjukkan lembar Materi Rapat UN yang ia hadiri di Dinas Pendidikan Kota. Di lembaran itu tertulis kurang lebihnya seperti ini:

1. Uang transpor pengawas ruang diberikan oleh sekolah tempat pengawas bertugas sebesar Rp 15.000 per orang per hari.
("ada 3 orang pengawas dalam 1 ruang dan ada 5 hari ujian untuk 6 mata pelajaran yang diujikan,"terang si ibu)

2. Uang makan pengawas ruang diberikan oleh sekolah tempat pengawas bertugas sebesar Rp 10.000 per orang per hari.

3. Pengawas soal diberikan uang transpor oleh sekolah tempat pengawas bertugas sebesar Rp 100.000 per orang per hari.
(pengawas soal ini mungkin maksudnya pengawas/pembawa soal dari Dinas, ada 1-2 orang dan Rp 100.000 dalam rapat diganti oleh Pimpinan Rapat menjadi Rp 150.000 -pimpinan rapat adalah ketua rayon, kalo ga salah-)

4. Tiap sekolah yang menyelenggarakan Ujian Nasional wajib menyerahkan Iuran gotong royong yang dikenakan pada tiap siswa sebesar Rp 7.500.
(Si ibu cantik juga tak tahu apa gunanya iuran gotong royong ini)


"Mbak lihat sendiri kan, kalo kami hanya memungut uang ujian berdasarkan aturan itu saja. Sisanya untuk operasional UAS dan ujian praktek. Kalo di sekolah lain (uang ujian-red) bisa sampai 500 ribu bahkan 2 juta per siswanya," terang ibu cantik.Apa?

"Lebih kasihan lagi kalo anaknya ga lulus, mbak. Tahun lalu saja tiap siswa dikenakan biaya 1,5 juta per mata pelajaran yang tidak lulus," lanjutnya. Waduh, kalo ga lulus 6 pelajaran berarti habis duit 9 juta dong..aih, aih. Satu setengah juta itu aturan dari sekolahnya ato bagaimana, tanya saya. "Aturan dari atas, alasannya soalnya beda dan biaya operasional para pengawasnya kan beda lagi,"jawab si ibu dengan nada makin tinggi.

"Padahal kalo banyak siswa yang tidak lulus, kepala dinas prov-nya juga ditegur sama menteri. Lalu, kepala dinasnya akan meminta bagian pengumpul soal untuk membenarkan semua jawabannya anak-anak. Berarti sama aja kan? Apa artinya ujian nasional kalo begitu?" kata ibu makin berapi-api. Berarti uang 1,5 juta itu bonus ekstra untuk para pegawai dinas sekaligus biaya untuk menghapus jawaban anak-anak dan menggantinya sesuai kunci jawaban, pikir saya.

"Kami, guru-guru,merasa kasihan sama anak-anak. Masa capek-capek mereka sekolah tiga tahun, berhasil tidaknya cuma ditentukan oleh 5 hari ujian. Ga adil kan? Standarnya juga dinaikkan tahun ini, jadi 5,50 untuk 6 pelajaran. Terlalu berat untuk sekolah kecil seperti di sini." Betul, jawab saya, dengan standar ujian yang sama maka tingkat kelulusan di daerah kota dan desa pasti berbeda. Kualitas pendidikan di negara ini belum terstandarisasi dengan baik sampai saat ini. Mulai dari Sabang sampai Merauke, kualitasnya pasti tak sama. Agh, gitu kok berani-beraninya bikin Sekolah Standar Internasional? imbuh saya dalam hati.

"Kalaupun memang tetap ada UN, mungkin ada baiknya bila anak-anak yang tidak lulus tetap mendapat ijazah. jadi mereka tetap bisa melamar kerja. itu menurut saya lho ya," ujar si ibu lagi. Aturan sekarang, bagi siswa-siswa yang lulus akan mendapatkan ijazah dan surat tanda lulus. Jika tidak lulus, mereka tidak akan mendapatkan keduanya. Jadi harapan siswa untuk melanjutkan studi atau bekerja tidak terputus begitu saja.

Lalu, kenapa Ujian Nasional tetap diadakan juga Bu? BUkannya kasus UN sudah sampai tingkat kasasi? tanya saya. "Nah, itulah. Bambang Sudibyo, menteri pendidikan tahun lalu sudah keburu bikin Permen. Peraturan Menteri bahwa UN tetap akan dilaksanakan. Menteri Pendidikan yang sekarang ini, M.Nuh, tidak bisa mengubah Permen ini. Bisa sebenarnya, tapi jarang sekali ada Menteri yang mengubah

Permen. Jadilah, Permen manis buat kita semua,"jawab beliau diakhiri senyum simpul yang membuatnya makin cantik. Kalo menurut laki saya, Permen tersebut tidak diubah karena banyaknya protes dari pejabat Dinas Pendidikan. Beban biaya untuk membatalkan UN dianggap terlalu besar karena proses pengadaan UN sudah dimulai sejak tahun lalu! Terlalu besar yang akan hilang dari kantong mereka mungkin, pikir saya.

"Seluruh jajaran Dinas Kota maupun Prov pasti tahu soal ini. UN itu proyek besar. Orang-orang atas pasti dapat bagiannya," asumsi si ibu cantik sambil tersenyum sinis. Mengingat proyek UN adalah "proyek bersama pejabat pendidikan" maka kepala-kepala sekolah mungkin tidak dapat berontak atau protes. Masalahnya, cap kelulusan anak-anak didik mereka yang pegang. Legalitas sekolah juga ada di tangan mereka. Kalau si ibu cantik ini bersuara sekeras ini pada pejabat di atasnya, bisa-bisa sekolahnya dibubarkan tanpa alasan jelas. Lantas, bagaimana tanggung jawabnya pada orang tua siswa?

Mungkin itulah sebabnya, si ibu cantik ini bertutur begitu semangatnya pada saya. Saya mengaku sebagai mahasiswa. Mungkin beliau ingin melepaskan uneg-unegnya pada saya dan sedikit berharap suara saya bisa berbunyi lebih keras darinya. Bagaimanapun, beliau tahu semua kecurangan dan kebusukan para mafia pendidikan itu tapi tak mampu berbuat banyak, selain bertahan dan pintar-pintar menahan diri. Karena beliau masih berada dalam sistem pendidikan itu sendiri.

Gambaran tentang UN ini sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Tapi saya masih kaget melihat betapa riilnya kecurangan-kecurangan tersebut terjadi. Lebih kaget lagi, para guru sudah banyak yang tahu soal ini, tapi tidak bisa berbuat banyak. Tapi setidaknya mereka tetap berusaha bertahan dan mendidik murid-muridnya. Lebih mulia jasanya daripada pejabat dinas ataupun anggota dewan terhormat yang masih saja ribut soal duit hilang Century.

22.8.09

Gambar itu, punya fesbuk

Beberapa kali gw dateng ke cafe tempat nongkrong, tampak pemandangan lumrah para pengunjung yg asyik mengotak-atik leptopnya. Hampir 99% pengunjung ituh pastilah sedang membuka halaman jejaring sosial paling hip saat ini, fesbuk. Ga heran, demam fesbuk emang luar binasa. Hampir semua teman yang gw kenal di kampus pun punya kebiasaan membuka halaman fesbuk sebagai halaman pertama yg dibukanya saat berinet ria. Yah, kalo ga buka twitter atau plurk =)

Nah, gw pun punya kebiasaan sama. Buka fesbuk setelah mengklik program Mozilla Firefox. Anehnya, hari ini gw memperhatikan image yang terpampang di halaman muka fesbuk. Ilustrasi sederhana tentang jejaring sosial.

Hemmh...ada 6 image pria dan 7 image wanita. Seakan menanalogikan bahwa jumlah wanita di dunia lebih banyak daripada jumlah pria. Lalu, ada garis penghubung satu image dengan image yg lain. Analogi untuk hubungan pertemanan antara anggota jejaring sosial. Wah, mengapa garis penghubung image wanita lebih banyak dari pria? Coba perhatikan image wanita di bagian tengah gambar. Dua image wanita di bagian tengah memiliki garis penghubung lebih banyak daripada image2 pria yang ada dalam gambar ituh. Mungkinkah ini menganalogikan kesukaan wanita terhadap jejaring sosial itu lebih tinggi dibandingkan pria? Hemm, entahlah.

Yang jelas, ada hal yang paling bikin risih dalam gambar itu. Kenapa image2 itu diletakkan pada negara-negara besar saja? Jepang, India, Eropa, Rusia, AS, Brazil, Australia, dsb. Kenapa ga di Indonesia saja? Kan negaranya besar =)
(untung si maling sia g diakui juga dlm gambar itu, klo ga pasti dianggap mencuri pasar fb indo. lhoh? ko g nyambung? hihihi)



gambar itu

19.5.08

Peringatan Kebangkitan Nasional

Kalo orang laen memperingati Kebangkitan Nasional dg aksi dan mengorganisasi kegiatan, gw melakukannya dg cara yg berbeda. Pertama, mengikuti seminar nasional 100 tahun kebangkitan nasional yang diselenggarakan forum rektor indonesia (17/05). Kedua, menikmati festival jajanan bandung di unpad (18/05). Tiga, ngeceng di peringatan ha-u-te radio Ardan (18/05). Nah, gw akan berbagi sedikit cerita tentang ketiga acara teesbe.

1.Awalnya gw ogah banget deh dateng ke seminar nasional dg tema ketahanan bangsa itu. Tapi apa daya, tugas memanggil. Acaranya tergolong besar karena dihadiri oleh ketua MPR, DPR, DPD dan Panglima TNI. Acaranya begitu membosankan karena bapak2 terhormat itu berbicara tentang teori-teori yang terasa mengawang-awang, tidak riil untuk kedaulatan bangsa ini (tssahh!!bahasanyaa..). Mereka banyak bicara tentang kebangsaan yg ideal dan bla bla bla.. Hal yg paling menarik justru datang dari bapak ketua DPD RI yang memberikan dua opsi pada akhir presentasinya tentang peran DPD: 1. mempertahankan DPD dengan anggaran dana yg berlebih, 2. membubarkan DPD... wakwaww..(gw memilih yg pertama ya, pak! tapi anggarannya buat saya.. =p). Panglima TNI juga membuat gw tertarik pada awal presentasi karena saat namanya dipanggil, gw kaget. "Lho, sejak kapan rektor gw jadi panglima? tambah tinggi pula..," batin gw. Ups!

Dari seminar ini, gw semakin yakin kite harus menerapkan pepatah 'sedikit bicara, banyak bertindak'...ya, itu kalo kite mu bangkit menjadi negara besar.

Hidayat Nur Wahid

2.Nah, soal festival jajanan di unpad..gw mengaku salut dg acaranya. Gilaa..banyak banget jajanannya, mulai dari aci-acian (cilok en cimol), es-es an (es cendol, es goyobot, es nong-nong), tahu-tahuan (tahu sumedang, tahu gejrot), singkong keju, lumpia basah, kue putu, batagor, mi kocok, kupat tahu, mochi, awug, surabi sampe cuanki en lotek/karedok. Ada sekitar 30 jenis makanan-minuman yg dijajakan. Dahsyatttt..... Tapi ada yg kurang euy, PISANG KARAMEL!! *jajanan trendy anak itebe masa kini (halah..)* Di festival ini, pengunjung di'paksa' untuk membayar 20 ribu/orang untuk masuk en mendapatkan masing-masing 10 jenis makanan. Ah, tapi worth it lahh.. gw ga nyesel biarpun sepulangnya susah buang rudal en sakit perut kebanyakan makan. Hehehe..

batagor en colenak

Atas nama kebangkitan nasional, dari acara ini gw mendapat inspirasi untuk mematenkan semua jenis makanan yg gw makan hari itu. ga lucu kan klo tiba-tiba batagor kesayangan kite diaku2 org malay sebagai makanan pokok mereka??

3.Huupss, gw sengaja dateng ke peringatan 18 taon radio Ardan demi tujuan mulia : mengantar junior kosan (temen kosan tp lbh muda usia, maksutnya) menikmati malam seninnya *sok baek hati* hehe.. ;)) Engga deng, tujuan laennya ada juga...menonton Maliq d'Essential, Ran (penasaran ama yg namanya Asta, keknya lucu..hihi), en Mulan Jamidong (secara kedon-dong, bukan kedon-lah). Sengaja banget nih gw bela2in ke studio Ardan utk beli tiket en sengaja banget gw mengeluarkan duit 25rebu untuk menongton acara wah di sabuga ini. Sengaaajaaa...

Well, sayangnya gw, fifi (junior kosan gw), en Medusa datang terlambat karena antrian masuk yg sangat panjang di depan pintu utama sabuga. Jadinya, kami ga sempat nongton Ran beraksi en cuma sempet melihat cuplikan atraksi mereka di layar besar dekat pintu masuk. Hiks.. Ah, sayangnya lagi saat kami datang, d'massive sedang menguasai panggung. Aaarrrgghhhh!! Your music kills me, klo ga salah judulnyaa.. duh, biyung! Maaf saja, gw tidak terlalu tertarik dengan ben amatir seperti mereka (beeurgh, belagu amat bu!).

Sayangnya, sayangnya, sayangnya lagi atraksi mereka dilanjutkan dg penampilan the Rock Indonesia. Ouw, yea..the another amateur! Kami (gw, lebih tepatnya) bernapas sedikit lega kemudian, saat Mulan Jamidong muncul. Perempuan berhidung yahud ini berhasil 'memaksa' gw untuk ikut menyanyi.


Lalu ada afgan-nista yg dielu2kan gadis2 abege (anak baru gedebage). Berikutnya, Maliq tampil dg penampilan yg -seperti biasa- atraktif dan memukau. Mereka membawakan lagu-lagu hits seperti Terdiam, Heaven, Blow My Mind dan singel terbaru mereka, Dia. They amaze me again , again, and again.. Begitu Maliq turun, auditorium sabuga yg semula penuh langsung berkurang hingga sekitar separuhnya. Tampaknya semua orang datang untuk menongton Maliq sama seperti kami ;)

Lagi-lagi, atas nama kebangkitan nasional..kita harus terus mencintai musik negeri sendiri dan marilah kita tingkatkan musikalitas kita, jangan melulu menyukai mereka yg amatir =))





23.7.07

Belajar Kimia bareng Hiskia Ahmad

Sebenarnya gw pengen posting inih dari kemaren2...tapi g sempett!!

Ceritanya, gw sempet meliput acara Indochem Extravaganza '07 yang diadain di kampus..tgl 14 Juli 2007 lalu di Basic Science A seperti yang ada
di sini. Acaranya bertajuk "Dunia Kimia Anak" dan menghadirkan Pak Hiskia Ahmad --itu lohh, yg bikin buku-buku Kimia untuk tingkat 1 ITB a.k.a TPB-- Gw ga pernah bertemu si Bapak sebelumnya, jadi sedikit terkejut melihat betapa tuanya beliau. Rambutnya telah memutih semua, kulitnya keriput semua, kacamata yang dipakenya pun tebel naujubilee..

Drs. Hiskia Ahmad (Trust me, Drs. ituh gelarnya!)

Beliau memberikan banyak demo hari itu pada 10 anak-anak usia SD yang hadir di lab Kimia Dasar. Kesepuluh anak yg hadir merupakan anak2 dosen Kimia ITB. Mereka datang didampingi orangtuanya masing-masing. Anak2 ituh keliatan seneng banget bisa "main-main" kimia bareng Pak Hiskia, terutama saat disuruh membuat minuman berwarna dan membuat popcorn (dalam bahasa Pak Hiskia: jagung bunga!). Setiap anak tidak segan-segan untuk mencoba berbagai demo yang ditawarkan Pak Hiskia, seperti reaksi asam-basa, endoterm-eksoterm (halah! bahasa jorok apaan inih??), dan warna biru yg menghilang.
Inih anak-anak yang dateng



tulisan berwarna kuning dari kunyit jadi merah (disemprot fosfor)

Kertas yg ditetesin fosfor jadi kebakar?

Anak-anak pun seketika menjadi brutal saat Pak Hiskia mengeluarkan tongkat untuk membuat gelembung2 sabun. Semua anak berebut tongkat pembuat gelembung dan bermain gelembung tanpa peduli pertanyaan Pak Hiskia "Kenapa gelembung sabunnya selalu berbentuk bulat, tidak kotak?" Tidak ada jawaban dari anak2 yang asyik main gelembung. Pak Hiskia yang tua pun mengulangi pertanyaannya...

Seorang anak pun berceletuk, "Udah takdir..." Maka, terbahaklah semuanyaa.... Kayak di iklan teh botol ajah!
berebut tongkat pembuat gelembung (yg plg kanan ituh dosen kimia)



15.6.07

Akar : Pameran TPB SR 2006

Hoo...anak tepebe SR bikin pameran lagih. Tiap tahun para tepebe'ers ini mamerin karya2 terbaik mereka selama kuliah satu tahun pertama di SR. Sejak empat taon lalu, gw g pernah berhasil nonton pameran tepebe soalnya diadain pas liburan..secara, gw pulang kampus selalu.

Akhirnya, taon ini gw bisa jg nonton pameran ini. Maklum, liburan ini gw musti nyelesein TA ampe mampussss :(


Secara keseluruhan tema pamerannya tradisional, terlihat dari dekorasi anyaman bambu (kata mi'ing, tirai-tirai bambunya dibikin anak tepebe sendiri), saung (lagi-lagi, bikinan anak tepebe juga) dan alunan musik Sunda yang jadi background musik tiap hari (kata Rime, kayak ke nikahan ajah).Dekor dari material karton juga menutup semua tembok GSG dan merubah gedung 'buluk' itu jadi kayak pematang sawah beneran. Hihi..niatt euy!

Sayangnya, panel karyanya terlalu deket satu sama laen. Jadi pusing muterinnya. Panelnya ngumpul gituh, g nyebar. tinggi2 pula! Cape..

Hussshh....katanya, dana untuk pameran ini habis 15 juta-an. Waow!! Gpp-lah, sponsornya RCTI kan?

Karya-karya yg ditampilin, OKEH-OKEH!Mulai dari gambar bentuk tak berwarna, gambar dengan gradasi warna, gambar motif batik ampe bikin cetakan tekstur sayuran. Karya-karyanya terdiri dari karya nirmana 2 dimensi dan tiga dimensi. Trus yg paling rumit tuh, orthogonal dan metode grid (metode yg katanya ada juga di gambar teknik...), katanya metode ini baru diterapin ke anak tepebe mulai taon ini.Nirmana rangka balok dengan senar warna-warni

Sebagian karya ada di blog-nya
Rime. Di sini gw tampilin sisa foto kita aja laaaa...

Ini bikinnya g pake lem lhooo...

berasa lo bisa masuk ke dalamnya g si?

rada gelap di dalem gsg

lorong pameran (hasil foto rime, ada di berita itb)

10.6.07

Kalo Dosen Maen Musik

Baru-baru ini gw menyaksikan band-band dosen main di kampus. Waah..ternyata jago-jago ya..bapak2 ituh!
Jumat malam lalu, misalnya gw nonton acara Jazz and Blues di Lapangan Merah Seni Rupa. Beberapa dosen SR tampil dengan nama band mereka, Tabrak Lari Blues.

Tabrak Lari Blues
Personelnya ada Pak Biranul Anas, dekan FSRD dengan dentingan keyboard-nyah yang okeh! Trus ada Kapten John (vokalis), dosen SR dengan suara lantangnya. Dosen SR satu lagi gw lupa namanya :) , itu..si bapak gendut (bassist) yang terus lompat-lompat selama maen. Ekspresif bang-get ya Pak...! hehe. Kalo personel lainnya datang dari luar SR, seperti lead guitarist-nya personel band jadul: Protonema, drummer-nya mahasiswa STT Telkom, guitarist satunya ..hm, maap lupa!
Kapten John
Trus, besoknya hari Sabtu (9/06) saat meliput acara MBWG ternyata Bandos tampil. Bandos ini band yang digawangi sama dosen-dosen EL, KL dan SI..yang pernah dimuat di blog Rime. Salah satu dosen yang main tuh, mantan pimpinan gw., Pak Armien P. Langi.
Pak Budi Raharjo
Ya, seneng juga liat dosen-dosen maen musik..

26.4.07

Lalu aku pun ikut bangga...

" Dr. Fenny Martha Dwivany, seorang staf pengajar Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB berhasil mendapatkan award dari program L’oreal-UNESCO for Women in Science yaitu : Unesco- L’Oreal for Young Women in Life Science International Fellowship 2007 (Paris, 21 Februari 2007), Unesco-L’Oreal for Women in Science National Fellowship 2006 (Jakarta, 29 Agustus 2006). Dua penghargaan tersebut berupa dana penelitian $40,000. Award tersebut berhasil dimenangkan melalui penelitian beliau yang berjudul ‘Metoda alternatif pengontrolan pematangan buah dengan pembungkaman gen ACC oksidase pada buah pisang’"

Si ibu cantik ini udah diliput oleh media mana ajah. Pernah disyuting n masuk tabloid Femina. Waah, pokoknya sebagai peneliti muda yang oke...(otaknye n penampilannye!) she's the one!

Lalu aku pun ikut bangga padanya, seluruh lab pun ikut bangga padanya. Semua penghuni lab pun seneng karena bisa nebeng di-syuting (ga termasuk gw, yg selalu ketinggalan momen ”Lab Meeting untuk Syuting” hiks..hiks..).

Gw pernah melihat salah satu proses syuting yang dilakukan di lab gw, yaitu syuting untuk L’oreal. Gw ga ikutan dishoot sih, tapi anak-anak bimbing si ibu, seperti weny, saripah, listya dan saripah. Skenarionya, mereka sedang mengisolasi DNA pisang dari pisang aslinya sambil diskusi dengan ibu. Segalanya pun dipersiapkan secara instan, termasuk jas lab yang selama kerja di lab tidak pernah dipakai,,hihi,,hihi (jas lab di lab gw bukanlah kwajiban selama kerja TA, mungkin karena malas copot-pake). Saat segalanya udah beres, mule dari pisang, pisau, pinset, pipet, dsb...eh, krunya ga juga nongol. Ditunggu setengah jam, masih aja ga dateng-dateng. Tunggu lagi sampai sejam, anak satu lab udah penasaran..tetep ga dateng juga. Dua jam....eh, baru ketahuan kalo kru syutingnya lagi nge-shoot si ibu yang pura-pura berdiskusi dengan dosen lainnya di ruangan sidang sebelah lab. Cape ya..

Setelah hampir dua jam setengah menunggu, kru L’oreal dan ibu pun masuk dalam lab dan langsung action! Walah..walah...si ibu tampaknya udah piawai sekali berakting di depan kamera. Yah, seinget gw syuting hari itu adalah syuting ke-3 setelah Good Morning Trans TV dan Inspiring Women Metro TV. Anak-anak si ibu pun tampak sudah terbiasa untuk manggut-manggut canggung dan berceloteh sedikit di hadapan kamera. Ach, padahal lokasi syutingnya = meja gw+meja sebelah gw (teh citra). Saat itu juga gw mengutuk diri sendiri, kenapa gw ga pura-pura bego dan pura-pura mencari sesuatu dari meja gw? Lumayan ’kan, nampang....


28.3.07

TPB Cup 2007


Dua tahun ini banyak kegiatan olahraga yang digelar (sebelumnya mungkin ada, tapi jarang terdengar). Selain kompetisi reguler basket putra/i antar himpunan, atau home tournament masing-masing himpunan, juga ada kompetisi skala nasional dan intern. Mulai dari Futsal Challenge-nya PS ITB, voli dengan ITB Cup-nya, kompetisi renangnya URPA, Olimpiade 2007 yang ramai (lebih ramai daripada tahun sebelumnya), and now...TPB CUP 2007.
Kompetisi sepak bola milik anak TPB 2006 ini lumayan rame juga, ternyata. Banyak sekali mahasiswa TPB yang sengaja datang untuk main atau nonton. Ajang olahraga ini pun tampaknya jadi sarana yang tepat untuk mengumpulkan mahasiswa-mahasiswa baru itb, terutama yang belum diospek. Selain spirit olahraga dan kecintaan terhadap sepak bola, alasan banyak mahasiswa ikut serta dalam ajang ini adalah idealisme fakultas/jurusan. Maksudnya, kalo menang berarti atas nama fakultas/jurusan.
Panitia tpb cup juga kayaknya niat banget menggelar acara ini. Mulai dari buat logo yang lucu, pasang papan pengumuman berisi hasil pertandingan sampai bikin buletin TPB CUP.
ini logonya...lucu ya????harusnya bayi gajah, kan tpb!

Hmm, kayaknya tren mahasiswa itebeh sekarang bukan lagi aktivis tapi atlet (hmm..gw juga suka atlet!hehek)

3.3.07

Gagal Interpiyu AMING

Hari ini hari wisuda lagi. Gw bela-belain datang ke acara wisuda hari ini, pengen liat Aming. Aming kan diwisuda hari ini (setelah 7 taon kuliah di itebeh). Haha..gak penting. Gw pun berniat interpiyu sama dia, kalo bisa minta link ke acara extravaganza.
Sebelum acara mule, gw udah liat Aming datang. Terlihat sangat mencolok dengan sweter putih dan kacamata frame putihnya. Tapi gw blom berani mendekat atao memfotonya. Ntar aja, pikir gw.
Trus pas pemberian selamat rektor pada wisudawan FSRD, gw pun standby di deket antrian wisudawan. Hoho..si Aming menggelayut manja pada teman pria di depannya. Menyembunyikan muka, mungkin. Bu Eneng a.k.a tante cunihin, seorang karyawan T.U jurusan gw tiba-tiba langsung menggandeng lengan Aming dan mengajaknya berfoto bersama. Mami yelly, temanku yang protokoler pun pengen ikut difoto dan memintaku mengambil posenya. Jepret..jadilah foto Aming dan mamih yelly. Kesempatan itu gw pake untuk berbicara pada Aming, "Ming..mo interview donk. Gw dari pers kampus." Aming yang malu-malu tampak kebingungan. "Abis ini ya.." kata gw lagi. Ia pun mengiyakan. Janji interpiyu terpenuhi.
Usai acara, buru-buru gw menghampiri Aming lagi. Ia berkata,"Di luar aja ya, aku lagi nunggu orangtuaku." Maka, gw pun menunggu orangtua Aming datang.
Gak lama, seorang ibu lanjut usia (asli, tua banget kayak nenek gw!) datang dengan baju kebaya pink yang sederhana. Sesederhana baju kondangan nenek gw, cuma kebaya polos dan kain batik warna senada, ples tutup kepala putih dan selendang pink yang dipake jadi kerudung. Sesederhana nenek gw yg tinggal di desa. Gw pun mendekati beliau sambil menunggu Aming yang sibuk diajakin foto orang-orang. Gw pun ngobrol sama sang ibu. Aduh, terlihat banget baeknya! Sederhana, bae hati dan ramah. "Nanti maen ke rumah ya?" ujar beliau
"Kasihan sebenarnya dia (Aming-red), kecapekan jadi gak enak badan." Beliau tidak banyak berbicara tapi terlihat senang diajak berbicara. Tidak seperti ayah Aming yang sangat pendiam. Gw jd g berani negor, mukanya asem lagih. Aduh, maap bapak ;/
Lalu seorang bapak datang untuk menyalami ibu Aming dan mengira gw adeknya Aming. Hehehe. Saat Aming sudah tidak dikerumuni orang lagi, ia pun mendekati ibunya "Lapar, Mah?" Mendengar ini, gw jd g tega sama Aming dan ibunya. Tampaknya mereka blom makan dari pagi dan Aming terlihat cemas pada orangtuanya. Kayaknya ga enak ama orangtuanya, acaranya dari pagi..pikir gw.
Maka, gw urungkan niat gw untuk interpiyu dan hanya meminta satu pernyataan saja dari Aming. Gw g tega ama Aming yang sakit dan ibunya yang udah sepuh dan tampak kecapekan mengikuti acara hari ini. Gw batalin interpiyu dan..sekarang gw merasa: gagal sebagai wartawan. Hiks...